![]() |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Braking is Dangerous! Braking is Dangerous! Mobil Kinclong Dengan Vernis Warna Cat Mobil |
Kamis, 27/12/2007, 11:00:00 Braking is Dangerous! Braking is dangerous! Kedengarannya aneh. Apalagi bila dikaitkan dengan pekerjaan mengemudi. Lho? Tanyakan kepada pembalap; "Pekerjaan apa yang paling sulit ketika berpacu di sirkuit?" Jawabnya: "Mengerem." Awalnya, saya tidak percaya. Mungkin pula, banyak pengemudi lain yang tidak percaya. Bahkan ada yang berpendapat, mengerem adalah solusi terhadap semua masalah di saat mengemudi. Mobil melaju terlalu kencang, rem! Ada orang menyeberang tiba-tiba, rem! Pendeknya, semua mengandalkan rem! Ketika George Westinghause pada 5 Maret 1872 mempatenkan rem angin, sangat mungkin sistem rem ini dianggap solusi paling jitu mengatasi persoalan kendaraan yang melaju. Wajar, karena ketika itu, sang penemu mengaplikasikan sistem ini pada railway service. Jelas, karena tujuannya membuat kereta yang bergerak di atas rel berhenti pada satu titik yang sudah diperkirakan. Pemahaman saya tentang rem, tentu sudah berubah total. Ketika di awal tahun 90-an saya bergabung dengan Aswin Safety Drivers Club atau ASDC, saya mulai mendapat pencerahan. Bahwa ada dua aspek penting dalam pekerjaan mengemudi. Pertama, sinkronitas antara pemikiran dan reaksi. Lalu, keseimbangan dalam dinamika kendaraan. Keabsahan kedua aspek ini, terbukti di saat saya kemudian mengikuti sekolah balap di Jim Russell Racing Drivers School di sirkuit Donnington Park, Inggris, tahun 1993. Ketika melaju antara tikungan Redgate dengan Old Hairpin yang menurun dan berkelok, terasa Formula Vauxhall yang saya kemudikan melaju terlalu kencang. Melintas di Craner Curves, saya langsung bereaksi mengerem. Roda depan tentu saja dalam keadaan membelok dan bobot mobil sebagian besar bertumpu di depan. Hasilnya? Mobil berputar bagai baling-baling, meluncur ke hamparan rumput di sisi dalam sirkuit dengan bagian buntut di depan. Pada situasi tadi, otak saya sebenarnya sudah terisi dengan rentetan teori. Otak saya bisa mencerna, agar tidak mengerem ketika posisi roda depan masih membelok. Saya juga tahu, dinamika kendaraan ketika melaju di jalan menurun, mengakibatkan sebagian besar bobotnya berada di depan. Pengereman pada situasi ini, ditambah friksi yang besar antara roda depan dengan permukaan lintasan, serta merta memindahkan hampir semua beban ke sumbu roda depan. Walhasil, beban roda belakang menjadi ringan lalu kehilangan traksi dan menyusul ke depan. Inilah yang sering disebut oversteer. Bila mengikuti referensi di otak, saya mestinya tidak mengerem untuk menyelamatkan situasi. Yang harus saya lakukan, mengembalikan posisi roda depan sejajar dengan bodi mobil, kemudian melakukan percepatan atau akselerasi. Namun, sisi lain otak saya sudah terlanjur dipenuhi rasa takut dan khawatir, sehingga muncul reaksi spontan. Inilah bukti, pemikiran dan reaksi saya tidak sinkron di saat dinamika kendaraan bertentangan dengan perlakuan yang semestinya. Sekarang, tanyakan rekan Anda yang mungkin sudah bertahun-tahun mengemudi; "Apa fungsi utama rem?" Hampir bisa dipastikan, mereka menjawab: "Menghentikan kendaraan." Benarkah demikian? Anda bisa membuktikan bila ternyata jawaban itu tidak akurat. Cobalah melaju, cukup dengan kecepatan 60 kilometer per jam. Lalu, injak pedal rem sekuat tenaga seakan ada pejalan kaki yang tiba-tiba memotong jalan Anda. Mungkinkah mobil berhenti seketika, bersamaan dengan reaksi Anda menginjak pedal rem? Tidak. Anda mungkin beruntung bila bisa berhenti total setelah menggelinding sejauh ... meter. Kenapa? Ada dua fase yang terjadi di sini. Pertama, human reaction atau reaksi Anda sebagai manusia. Sebutlah itu refleks. Dari saat otak Anda mulai berpikir dan memerintahkan kaki Anda menekan pedal rem, ada jeda waktu yang digunakan. Pada kondisi normal, jeda waktu ini berlangsung antara 0.4 hingga 0.8 detik. Ambil yang moderat, 0.6 detik. Itu berarti, mobil sudah bergerak sejauh lebih kurang 10 meter. Fase kedua, mechanical reaction atau reaksi mekanis sistem rem mobil itu sendiri. Maksudnya, rangkaian proses yang terjadi dari tekanan pedal rem ke booster atau servo, lalu ke pipa yang berisi fluida untuk menekan piston rem dan berakhir pada tekanan brake shoe atau sepatu rem. Jeda waktunya sekitar 0.5 detik, tergantung teknologi yang digunakan. Bila dihitung, proses ini akan menghasilkan angka pergerakan sejauh 8.5 meter. Jadi bila ditotal, mobil Anda baru berhenti pada jarak sekitar 18.5 meter. Konklusinya, rem hanya berfungsi memperlambat putaran roda. Braking is dangerous, karena penggunaan rem dalam aktivitas mengemudi keseharian, menghadirkan prediksi yang sangat sulit. Ketika mengerem, berapa jarak yang diperlukan hingga mobil Anda berhenti total?Variabelnya banyak. Mulai soal teknologi rem itu sendiri, kondisi permukaan jalan atau lintasan, kondisi ban mobil Anda, besaran tekanan pada pedal rem hingga bobot dan kecepatan mobil itu sendiri, akan mempengaruhi jarak pengereman. Urusan mengerem bertambah sulit, karena Anda harus mengkalukulasi pula dinamika kendaraan di saat itu. Yang luar biasa, kesalahan kalkulasi justru bisa berakhir dengan petaka. Ketika menikung dengan sudut roda depan membelok, tindakan mengerem bisa berakibat mobil melintir. Di jalan menurun tajam, boleh dianggap sebagai tindakan mempersilakan bagian belakang mobil Anda bergerak menyusul ke depan. Di permukaan yang licin, mengerem bisa berakibat confusing phenomena atau Anda kehilangan kuasa untuk mengendalikan arah mobil sesuai keinginan. Mengacu pada sulitnya pekerjaan mengerem di saat mengemudi ditambah variabel-variabel yang berpengaruh inilah, teknologi rem terus mengalami penyempurnaan. Kita patut berterima kasih pada Louis Renault yang menemukan sistem rem drum atau drum brake pada 1902. Juga, penghormatan yang sama, seyogyanya disampaikan kepada Frederick William Lanchester yang mempatenkan Disc-style Brakes pada tahun 1890. Karena dari sinilah, upaya meminimalisir pengaruh variabel dari dinamika kendaraan terus berevolusi. Dewasa ini, pengguna mobil sudah semakin akrab dengan istilah Anti-lock Braking System atau ABS pada peranti rem. Belum cukup, pabrikan mobil melengkapinya lagi dengan teknologi Electronic Brake-force Distribution (EBD) serta Brake Assist (BA), entah itu berwujud Automatic Differential Brake maupun Dynamic Brake Control dan sebagainya. Bagaimana keandalan dan mekanisme teknologi pendukung system rem ini? Apakah berarti tugas pengemudi kendaraan yang diproduksi di abad millenium ini menjadi lebih ringan? Mungkin kita perlu membahasnya di kesempatan mendatang... Ditulis oleh : Sukarman Mustamin Tulisan ini sudah dipublikasikan di Majalah TOP GEAR Edisi November 2007 hal. 36. |
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2007 duniamobil.net, all right reserved | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||