![]() |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Small is Becareful! Tips Berkendara Saat Musim Hujan Bensin vs Diesel |
Rabu, 26/12/2007, 14:00:00 Small is Becareful! Small is beautiful. Itu kalimat yang sering kita dengar. Ya, kecil itu indah, tapi untuk konteks tertentu. Di dunia otomotif, kecil itu lebih sering diartikan sebagai efisien. Bahkan mungkin saja berarti, kecil itu murah. Banyak contohnya. Paling nyata, sesuatu yang sangat populer sekarang ini adalah city car. Mobil kota yang dianalogikan sebagai mobil kecil itu, dianggap efisien. Lalu, harganya pun murah. Meskipun relatif, tergantung merek dan produknya. Honda Jazz bermesin 1.5 liter misalnya, bisa diboyong dari dealer Honda dengan harga sekitar 150 juta rupiah. Tapi untuk Mercedes A150 yang mesinnya juga 1.5 liter, Anda harus menyediakan jumlah uang lebih dari 300 juta rupiah untuk menebusnya dari showroom. Padahal, dimensi kedua mobil ini cuma terpaut 8 mm untuk ukuran panjang bodinya. Namun, dunia otomotif juga mengajarkan kita bahwa small is becareful. Ya, untuk soal kecil, Anda juga harus berhati-hati. Proton Savvy, tergolong mobil kecil. Kapasitas mesinnya cuma 1.2 liter atau tepatnya 1.149 cc. Mesin yang dipakai Savvy ini, merupakan sumbangan Renault, yang merupakan versi kecil dari mesin tipe C Renault. Mesin berkode D4F itu pertama kali diperkenalkan pada paruh tahun 1990-an dan dicangkokkan pada Renault Twingo sebelum diganti dengan mesin berkode D7F. Di Indonesia, persoalan mesin ini kadang menjadi menarik untuk dibahas. Terutama, karena faktor ketidakjelasan dan pemahaman banyak konsumen mobil di negeri ini yang terbatas. Salah satu akibatnya, muncul logika dan kesimpulan yang tak jelas dasar, latar belakang serta asal-usulnya. Savvy sebagai city car misalnya, jelas harganya murah. Ya, sedikit di atas 100 juta rupiah. Lantas, konsumen berpikir begini: "Kalau mobil berharga murah, maka cukup membeli BBM yang juga harganya paling murah, jenis Premium?" Ya, ini logika yang tampaknya wajar. Di stasiun SPBU, ada Nissan Terrano Spirit sedang mengisi BBM jenis Premium dengan oktan 88. Terrano, di mata pemilik Savvy, jelas tergolong mobil besar, dalam segala aspek. Dimensi panjang Savvy sekitar 3.7 meter. Artinya, Terrano lebih panjang sekitar 0.6 hingga 0.7 meter. Mesin Savvy 1.2 liter, sedangkan Terrano 2.4 liter. Harga? Wah, untuk memboyong Terrano, harus sedia dana sedikit di atas 200 juta perak. Nah, kalau Terrano saja beli Premium, mestinya Savvy cukup diisi Premium pula. Bahkan kalau ada BBM di bawah Premium, itu juga sudah cukup, bukan? Hmmm..., saya kadang tersenyum melihat hal seperti ini. Mesin Z24 Terrano yang juga dikenal sebagai turunan mesin NAPZ atau NAPEZ, diproduksi antara tahun 1983 hingga 1989. Sedangkan versi fuel injection-nya, dibuat mulai tahun 1985 dan menghasilkan tenaga 103 HP. Sebagai mesin yang menerapkan crossflow cylinder head, generasi mesin Z ini dikenal memiliki emisi rendah di zamannya. Secara umum, mesin Z24 memiliki rasio kompresi rendah, yakni 8,3 : 1. Dengan demikian, Premium beroktan 88 sudah memadai untuk mesin ini. Bagaimana dengan Savvy? Mesin D4F dari Renault yang digunakan Savvy, memiliki rasio kompresi cukup tinggi, yaitu 9.8 : 1. Angka ini menunjukkan, Savvy hanya bisa mengkonsumsi BBM minimal jenis Pertamax yang beroktan 92. Bahkan kalau khawatir dengan kualitas BBM, lebih baik menggunakan Pertamax Plus yang beroktan 95. Lantas, apa jadinya kalau pemiliknya mengisi tangki BBM Savvy dengan Premium? Besar kemungkinan, muncul gejala knocking. Kalau pun tertolong oleh perangkat anti-knocking, tentu ada batas-batas toleransi yang tak mungkin terlampaui. Dalam jangka panjang, Savvy yang meminum Premium akan lebih sering bertandang ke workshop Proton. Percaya deh...! Munculnya ironi karena minimnya pemahaman konsumen, dan mungkin pula karena ketertutupan informasi dari produsen, bisa pula terjadi pada mereka yang saat ini sedang bangga mengemudikan Nissan Grand Livina. Pabrikan Jepang itu, lewat PT. Nissan Motors Indonesia, menawarkan dua tipe mesin Grand Livina. Masing-masing berkapasitas 1.5 liter serta 1.8 liter. Sesuai brosurnya, Livina 1.5 menggunakan mesin berkode HR15DE yang merupakan hasil pengembangan bersama Nissan dan Renault dengan rasio kompresi 10.5 : 1. Sedangkan Livina 1.8, dipersenjatai mesin MR18DE berbahan aluminium yang juga dikembangkan bersama Nissan-Renault dengan rasio kompresi 9,9 : 1. Kalau kita berpegang pada prinsip bahwa kecil itu murah, maka ketika pemilik Grand Livina 1.8L mampir di SPBU dan mengisi Pertamax, apa yang kira-kira ada di pikiran pengendara Livina 1.5L? Kalau Grand Livina 1.8 XV A/T dibanderol sekitar 180 juta rupiah dan Grand Livina 1.5 XV A/T kurang dari 160 juta rupiah, apa kesimpulannya? Bukankah harganya terpaut sekitar 20 juta rupiah? Heh..., berarti Grand Livina 1.5 cukup diisi dengan Premium.... Betul? Jangan naif. Kinerja mesin HR15DE yang dipakai pada Grand Livina 1.5, hanya akan optimal bila menggunakan BBM jenis Pertamax Plus. Sedangkan untuk Grand Livina 1.8, masih bisa toleran dengan jenis BBM Pertamax. Maka bila Anda pemilik Grand Livina 1.5 dan lebih sering mampir di SPBU untuk mengisi BBM jenis Premium, bersiaplah menghadapi beberapa kenyataan berikut. Pertama, mobil kebanggaan Anda itu terasa loyo dan tak bertenaga, mesin ngelitik dan rakus menenggak bensin. Jadi, small is be careful. Dalam kasus ini, sesuatu yang kecil, tak selalu berarti murah. Ditulis oleh : Sukarman Mustamin Artikel ini sudah dipublikasikan di TOP GEAR Edisi Oktober 2007 halaman 36. |
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Copyright © 2007 duniamobil.net, all right reserved | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||